Awalnya sih ga niat sama sekali kerja di pedalaman. Cuma karena dulu ada saudara yang menguruskan agar aku dapat beasiswa dari kabupaten ini, akhirnya ibuku maksa untuk balas budi. Padahal sih kabupatennya ga syaratkan gitu, emang dulu bagi-bagi duit karena terlalu kaya aja.
Males juga meninggalkan semua fasilitas dan kemudahan di kota, mana hobiku nonton di bioskop lagi, bakal sengsara di sana. Gaji di Surabaya juga lumayan waktu itu. Karena jadi dokter tetap di 2 klinik swasta, dokter perusahaan bayer dan sebuah perusahaan kontraktor yang bidang usahanya cukup besar, lumayan lah gaji kadang bisa setara dengan ptt daerah sangat terpencil.
Akhirnya berangkat juga ke Kalimantan. Sampai di bandara Balikpapan dan menuju samarinda, kesan cuma satu, kenapa sih di Kalimantan ini tidak ada jalan lurus dan datar T_T
Terombang-ambing jalan yang berkelok-kelok dan naik turun selama 3 jam, cukup membuat perut saya bergejolak. Untung tidak sampai muntah. Setelah tidur semalam di samarinda besoknya perjalanan di lanjutkan ke Sangatta.
Perjalanan ke Sangatta, mengerikan, dengan jalan berkelok naik turun dan hancur selama 6 jam, saya hampir tidak bisa membuka mata karena hampir muntah.Sejak itu istilah bus lag selalu saya pakai setelah melalui jalan trans Kalimantan, karena sekali jalan, badan masih mual-mual ga enak bebearapa hari.
Sampai sangatta, kesan awal satu, ni kota kok cuma jalan kembar gini aja ya. Mana ga ada transport lain lagi. Perjalanan ke kompleks perkantoran pemkab seperti jalan ke daerah benowo, surabaya kalo menurut saya. Jauh, sepi dan ga ada apa-apa selain kompleks kantor tadi. Mana ga ada transportasi lagi. Maka terpaksa ojek seharga 25 ribu sekali jalan jadi opsi satu-satunya. Karena bapak saya ikut sebagai pemandu jalan ya lumayan juga keluarnya berdua pp cuma buat ke kantor aja.
Dan ternyata, banyak persyaratan yang harus di urus, kartu kuning lah dll blablabla. Pergilah ke sisi lain kota buat ngurus kartu kuning di kantor disnaker. Tapi karena dah sore ya terpaksa nginep dulu.
Kesan ke dua soal sangatta, mahalnyaaaaaT_T. Sekali makan penyetan lele disini 20 ribu perorang. Sate dan gule plus minum buat dua orang 85 ribu -_- Emperan semua ya, ga berani ke restoran takut shock neurogenic.Hotelnya sih lumayan, 80 ribuan. Tapi kamar kayu nan gelap yang menurutku sih layaknya jadi gudang. Tapi ga mengeluh sih, bener-bener pengalaman baru aja.
Besoknya ngurus kartu kuning di disnaker, kesalahan kok ngurus kartu kuning pas pembukaan cpns. Ruameee, dijanjikan jadi 5 hari lagi. Karena perbekalan dan ijin cuti kantorku di surabaya terbatas, dicarilah jalan pintas(don’t try it at home), berhubung ada temannya bapakku di disnaker, jadilah secara kilat setengah jam. Maaf ya Allah, ga niat dan ga suka gini, tapi demi melaksanakan perintah ibu, udah berniat mutung juga benernya.
Habis dari disnaker langsung kembali ke atas ke bukit pelangi(nama daerah kompleks perkantoran pemkab) . Sampai sana,urus, urus, urus, selesai sampai jadi kartu peserta, karena ujiannya masih bulan depan pulang dulu deh ke Surabaya. Aduuuh malesnya lewat jalan itu lagi.
Bulan depannya kembali lagi ke sangatta buat ujian, secara ga niat, 30 menit selesai, materinya matematika dasar yang level smp menurutku(maklum mantan guru privat jadi hafal),sama materi-materi ppkn ga jelas gitu. langsung balik ke hotel. Besoknya tes wawancara, nah ketemu oknum guru dan sejawat dokter. Yang sejawat cerita kemarin ini (saya) keluar paling cepat, oknum guru tanya, kenapa?gampang kah? Karena emang ppknnya ga jelas ya kubilang karena ga tahu jawabannya pasti apa ya sejawab2nya aja. Eh terus dia malah ngajak bahas soal, dan jadi merinding, ni oknum guru kok bukan hanya ga bisa ya? Bahkan logika matematika setara smp aja ga dapet. Langsung mantap anakku nanti ga bisa sekolah disini. Memang itu hanya oknum, lha kalo pas ngajar anakku. Itulah kenapa aku selalu bilang bukan hanya dokter yang harusnya dikirim ke pedalaman, profesi lain yang kompeten juga(ada ga sih yang kepikiran bikin uji kompetensi guru Indonesia)
Habis ujian dibilang pegumuman nanti dikabari,sering-sering lihat kantor bkd aja. Wth???!! Kaya dekat aja. Untung sejawat dokter tadi mau ngabari kalau2 ada pengumuman(bener2 menyenangkan sumpah sejawat adalah saudaraJ akhirnya pulang dulu deh ke Surabaya.
Sebulan kemudian dapat kabar lulus dan dipanggil untuk ngurus berkas, shock lagi, disuruh bikin legalisir dari SD sampai ijazah dokter. Mungkin karena pengalaman tahun-tahun kemarin ada dokter yang nggak lulus SD mungkin ya, husnudzon aja. Pulanglah ke Surabaya buat ngurus2 legalisiran habis itu dikirim dan nitip saudara yang disana, nunggu lagi.
Sampai 3 bulan nggak ada kabar, akhirnya karena ada tiket murah ke Singapore berangkat deh jalan-jalan,dan takjubnya, aku nemu makanan yang lebih murah daripada di sangatta. Total jalan-jalan di Singapore kira-kira setengah biayaku daftar pns di Kalimantan. Nah asyik2nya liburan dapat telpon SK udah turun. Huh merusak liburan aja. Sampai Indonesia kutelponlah sejawat disana. Katanya belum dok, SKnya baru keluar beberapa orang aja buat acara simbolis kemarin. Ya sudah akhirnya nunggu lagi.
Pas enam bulan sejak pengumpulan berkas, pas ulang tahunku, SK turun. Entah kado yang diharapkan atau nggak, udah ilfil sama birokrasinya. Tapi akhirnya berangkat juga.
Karena males boyongan dan rencana sekolah lagi, barang-barang kutinggal di kos di Surabaya(masih kubayar sampai sekarang lo, soalnya lebih murah daripada nginep hotel sih kalo aku ke sby). Berangkatlah lagi ke Sangatta. Pas baca SK, wah, pas di desanya kakekku, belum pernah tinggal disana cuma sering mudik pas lebaran.
Lanjutlah perjalanan ke Sangkulirang, 4-5 jam dari sangatta. Jalannya keren euy, buat apa amerika jauh2 ke bulan kalo disini medannya hampir sama. Oh iya, sangkulirang itu pulau, jadi di ujung jalan harus nyebrang laut lagi. Tapi ga usah dibayangkan aneh-aneh, Cuma sekitar 100 meter jaraknya dari pulau utama kalimantannya. Sampai sana nostalgia nginep di rumah nenek.
Karena disana sudah ada 2 dokter dan satu dokter gigi, dan rumah dinas cuma buat kepala puskesmas dan dokter gigi. Terpaksalah mengontrak. Ini alasan saya sangat menolak wajib penempatan, karena kalo dokter harus swadaya untuk mengabdi sangat mahaaaal.
Akhirnya setelah berputar-putar dengan pilihan yang tak terjangkau, didapatlah sebuah kontrakan di atas laut seluas 5x10 meter dengah harga 7,5 juta setahun dibayar cash.
Konsekuensi tinggal di atas laut air bersih tidak ada. WC juga langsung ke laut hehehe. Gpplah pengalaman baru. Tapi mahal juga ternyata. Air bersih bisa habis 25 ribu sehari. Konsekuensi bujangan, makan beli.ga semahal sangatta sih disini 25 ribu sekali makan. Tapi porsinya jumbo. Demi penghematan dan terutama demi menjaga BMI yang makin mendekati obesitas maka makanan seporsi itu dibungkus dan dimakan dua kali. Makanannya aneh-aneh dan nggak ada di jawa. Nasi kuningnya juara, enak banget, dengan daging rusa, ayam atau aneka ikan. Ada kancil/pelanduk bakar, landak dan aneka ikan. Seafoodnya apalagi. Bagi pendatang tidak kusarankan makan udang dan kepiting sangkulirang, karena habis itu kalian tidak akan bisa lagi makan udang ataupun kepiting di jawa. One of the best in the world. Kebetulan ada sejawat yang sudah ngerasakan seafood mulai di Makassar, batam, Jakarta, jimbaran bahkan layar di Surabaya yang menurutku enak banget, karena dia udah ngerasakan seafood sangkulirang semua terasa hambar di lidah..
Ups kok jadi wisata kuliner, lanjut cerita yang lain. Sebagai dokter yang taat hukum (sebenarnya karena kapolseknya ganti dari Balikpapan yang lagi gencar-gencarnya razia SIP T_T) terpaksalah buru-buru ngurus SIP dan Surat Ijin Menyimpan Obat(SIMO) di Dinkes Sangatta. Males benernya, bukan karena ga taat hukum. Bus lag dan biayanya. Karena harus nginep kira-kira habis 500 ribuan lah pp sekali jalan. Datang pertama ke IDI, ga ada semua, terpaksa, balik. Datang ke dua selesai rekom IDI ditaruh ke dinas, tinggal pulang lagi. Datang ke tiga SIP jadi, baru ngurus SIMO (birokrasi, kenapa ga bisa sekalian sih), ngurus ke IDI dan lain-lain. Selesai tinggal balik lagi. Datang ke empat baru jadi semuanya. Baru lega, dan teler juga secara fisik, mental dan finansial.
Mulai lah bisa konsen kerja.Datang ke puskesmas pertama sepiiiii. Cuma satu sampai tiga pasien per hari. Usut punya usut karena praktek dokter swasta sangat murah. Ingat ya harga sekali makan disini 25 ribu. Puskesmas 5 ribu dengan obat generik kalengan. Dokter praktek swasta mulai 35 ribu dengan obat generik bermerk,macam alpara,floxifar gitu(terpaksa ngikut harga segitu T_T) jadi jelaslah dengan harga berbeda tipis dengan sepiring nasi mending ke dokter praktek swasta. Tapi setelah ‘ngobrol2’ dengan pak camat diberi kompensasi lah agar dokter bisa memberi obat dari prakteknya kepada pasien puskesmas. Daripada pasiennya puskesmas sepi?
Karena rawat inap dan ugdnya 24 jam terpaksalah yang paling junior harus mau dipanggil saat dua senior tidur. Ga terlalu berat sih, soalnya kan lumayan nambah pasien, tapi akhirnya karena kebisaaan nungguin panggilan malam jadi insomnia kronis sampai sekarang.
Panggilan pertama di malam hari adalah ibu hamil nyaris partus. Dikonsuli bidan tensinya tinggi. Agak merinding juga ke puskesmas tengah malam soalnya terkenal berhantu. Pas diperiksa kok ada malar rash ya? Pas jantungnya diauksultasi, terdengarlah murmur, kok ya pas saat itu anjing2 liar yang banyak di sangkulirang melolong bersaut-sautan. Horror banget. Langsunglah kusuruh rujuk pasiennya dengan diiringi bu bidan ku. Alhamdulillah lahir di jalan(mau gimana lagi perjalanan ke RS terdekat 5 jam) tapi pas mampir ke dokter kecamatan sebelah tetap disuruh merujuk karena emang gawat. Ga jadi dapat duit deh malam itu.
Beberapa hari kemudian dikonsuli pasien kapus yang sakit malaria. Malaria cerebral jenis falciparum. Bukan kapusnya yang konsul tapi perawatnya karena kapusnya juga kena malaria hehehe, memang dokter juga manusia kok. Melihat kondisinya yang mengerikan menurutku dan karena pas dm ga pernah dapat pasien malaria langsung pulang nyari pdt interna, kok ga nemu bukunya, akhirnya di kapita selekta UI. Kok kayanya harus rujuk ya, kenapa sama bos ga dirujuk. Akhirnya kusampaikan ke keluarganya. Karena obat yang ada di pkm cuma kina, ini tidak bisa dirawat disini. Bapaknya bilang kami mau aja dirujuk tapi kami tidak ada uang. Kan bisa urus surat keterangan tidak mampu(SKTM). Iya dok tapi kami di sangatta makan apa. Ups iya ya, aku aja menggos-menggos makan di sangatta. Dan ternyata karena ga ada ambulan terpaksa pasien harus carter mobil seharga 600 ribuan sekali jalan. Kok bisa ga ada ambulan. Dulu ada ambulan bantuan darimana gitu, kalo ga gubernur ya dari pusat. Tapi katanya karena tidak termasuk inventaris kabupaten maka dinas tidak bisa(atau tidak mau ya? wallahualam) mengeluarkan biaya perawatan. Mangkrak deh. Begitu juga dengan speed boat puskesmas yang tenggelam,karena ga ada dana ya ga diperbaiki.
Lanjut pasien tadi, karena satu dan lain hal(halah kaya apa aja) jatuhlah dia ke sepsis.ga ada lab buat memastikan(lab cuma ada malaria dan tb waktu itu), mau nyoba cek leukosit sendiri ga ada reagen ternyata. Jadilah cuma bisa menunggu sampai pasien mati. Hal paling menyakitkan buat dokter, apalagi masih kelas 3 sma pasiennya.
Kasusnya aneh-aneh sebenarnya di daerah, tapi meskipun di daerah pun yang aneh-aneh itu lumayan jarang. Jadi boseeeeeen banget.
Kalo pas aneh, kadang bisa ada 3 kasus kejatuhan atap di hari yang sama dari 3 rumah yang berbeda, digigit ular, digigit buaya sampai terekspos ginjalnya. Dan sengatan benang2,sebutan orang sini untuk sebuah spesies, yang ternyata setelah kulihat di national geographic namanya box jellyfish, ubur2 yang tentakelnya kaya benang, panjang tentakelnya bisa sampai 120 meter, dan racunnya dalam jumlah yang cukup bisa menyebabkan 100 % total heart cell necrosis dalam jangka waktu 10 menit. Ngeri ya, pantas kena sehelai benang aja orangnya sampai shock neurogenic karena sakitnya.
Praktek sehari-hari kebanyakan sama flu, batuk,pilek. Oh iya yang agak lucu pegel linunya. Pasien banyak yang pegel linu, dan kaya di Madura, xylodela ataupun neurobion jadi permintaan utama. Akhirnya ada satu yang khas kaya gejala asam urat, nyeri sangat di sendi kecil ibu jari kaki. Digunakanlah alat stick asam urat yang baru dibeli. Cek. 16!!
Speechless. Kasih obat pasien pulang. Beberapa hari kemudian ada lagi, cek, 14!! Mulai berpikir alat ini rusak paling, aduh repotnya ngurus garansi ke Surabaya. Besok2nya pasien dengan keluhan pegel linu biasa ku cek, hasilnya: 7, 6, 8,9. wah ternyata orang sini sudah terbisaa dengan asam urat sedemikian tingginya.
Lama kemudian pasien dengan asam urat 16 kembali dengan keluhan yang sama. Kutanya, kemarin makan apa pak
Nggak makan apa-apa dok(khas jawaban orang Indonesia)
Puasa?
Nggak dok maksudnya ,makan kaya biasa
Bisaanya lauknya apa pak
Cuma udang sama cumi aja kok dok
Hadeeeee -_-
Pasien disini untungnya karena merasa biaya dokter murah jadi sering memberi hadiah di luar biaya periksa. Ga tanggung-tanggung mulai ikan,udang, kepiting, telur ikan sampai madu hutan yang harganya ratusan ribu pernah diberikan pasien. Yang lucu pernah pas mau beli makan di warung pasienku, ada lobster panggang. Wah langsung excited karena di sangkulirangpun harga lobster 250rb/kg(gara2 pengusaha bali nih, segala seafood dibawa ke jimbaran jadi mahal). Pas mau kubeli lobsternya kata pemilik warungnya aduh maaf dok, ini anak saya tadi minta, tinggal satu ini. Batal deh. Eh pas ulang tahunku tanpa disengaja dia ngasih lobster itu. Hwaaaa keturutan akhirnya makan lobster. Enak banget, karena udangnya aja seenak itu, ga tahu juga gimana rasa lobster di luar sangkulirang, ga pernah makan, kan mahal banget.
Kembali kok jadi wisata kuliner lagi, lanjut ke cerita pasien aja. Datang ibu hamil dengan tekanan darah 160/100 dan proteinuria ++. Kusuruh dirujuk, pasien minta nanti aja pas waktu melahirkan. Kubilang nanti perjalanannya kan 5 jam ke RS dan SpOG terdekat, bahaya. Kata mereka kami mau aja dok, tapi kami nunggu kelahiran tinggal dimana,biaya hidupnya kami juga ga ada. Aku diam lagi. Ajaibnya ibu itu lancar melahirkan normal di sangkulirang. Mungkin kalo semua sangkaan terburuk kita pada ibu hamil tidak tertolong oleh keajaiban gini rasanya jumlah penduduk Indonesia bisa ga sampai 200 juta. Hidup memang penuh keajaiban.
Keajaiban pula saat merawat pasien dengan black water fever, malaria dengan hematuria yang kontraindikasi kina sementara obat puskesmas cuma ada itu. Terpaksa dimasukkan aja kina infusnya karena pasien tidak ada dana untuk dirujuk, sama keluarga pasien tidak punya biaya hidup di sangatta. Ajaibnya pasien selamat.
Harus kuakui para seniorku punya pengalaman lebih soal malaria. Ada anak 9 tahun datang dengan malaria cerebral dan Hb 7. Standar, tidak punya uang buat dirujuk. Akhirnya dengan artesunate(baru2 ini adanya) saja. Pasien sembuh
Nah berikutnya keahlianku, secara ujian interna dapat DHF dan pediatric lolos prof soebi dengan kasus DHF. Cukup pede dengan pengalamanku. Para dokter senior disini karena sekolah sebelum jaman2nya outbreak dhf, jadi tidak terlalu pede, yah mungkin sama kaya aku menghadapi malaria. Setiap rumple leed positif rujuk. Sementara aku dengan pedenya merawat yang klinisnya baik. Sampai karena banyaknya pasien outbreak, kecapekan, sakitlah aku, gejala typhoid, setelah 2 hari, muncul ptechiae di tanganku T_T
Terpaksa langsung ke samarinda buat periksa trombosit aja.kenapa samarinda? Karena hanya dengan beda transport 20 rb biaya hidup di samarinda lebih murah. Ngerasain perasaan pasien 8 jam dalam keadaan sakit. alhamdulillah trombositnya diatas seratus ribu. Makan yang banyak, besoknya dah naik. Pas balik-balik ke sangkulirang, mulailah disimpulkan. Tahun itu adalah pertama kali adanya kasus demam berdarah di sangkulirang, mungkinkah ada yang membawa virus itu dari daerah endemis dhf, Surabaya misalnya. Heeee meskipun bercanda tapi mereka menuduhku penyebab outbreak(mungkin juga ya)
Beberapa pasien complain, kenapa mereka punya SKTM tetap disuruh bayar oleh kapusku. Ternyata memang pasien tersebut menggunakan ceftriaxone injeksi yang memang tidak disediakan dinas dan dibeli sendiri oleh dokter (kebijakan dinas adalah pasien yang butuh ceftriaxone harus dirujuk ke RS). Akhirnya, dengan semangat ingin menggratiskan pasien SKTM, dipakailah full obat puskesmas.
Jujur aku lupa pasiennya sakit apa, tapi yang jelas butuh antibiotic injeksi, dan akhirnya kupakailah satu-satunya yang ada di puskesmas waktu itu. Terramycin injeksi. Sebuah larutan obat dalam minyak sebanyak 10 cc. menyedotnya dari vial amat sangat berat sekali, seandainya sering pasien gini jelas dokter dan perawat ga butuh body building. Ga kebayang rasanya disuntikkan ke pasien. Dan menurut brosur, dosisnya sehari 3 kali intramuskuler!! Pagi disuntikkan pantat kiri, siang disuntikkan pantat kanan malamnya pas kuperiksa pasiennya tengkurep, terus bilang udah dok gpp saya bayar aja, pake obat biasanya ajaJ
Jelas bukan mau kita untuk tidak menggratiskan pasien tidak mampu, tapi seperti itulah keadaannya. Pasien tidak bisa dirujuk karena banyak variable diluar tanggungan pemerintah yang mereka harus bayar, dan jumlahnya tidak sedikit. Itulah kenapa seperti kubilang di note sebelumnya, masalah kesehatan tidak mungkin bisa selesai tanpa pembangunan di segala bidang yang harusnya mulai dicicil sejak puluhan tahun yang lalu tapi bahkan belum dimulai sejak sekarang.
Oh iya aku belum cerita soal gaji ya. Duit nih pasti jadi motivasi juga ya. Gaji dokter PTT daerah disini sekitar 1,5 juta dengan uang makan 200 ribu per bulan yang diterimanya sesuka2 dprd bikin anggaran. Kalo cpns kaya aku dapat 1,6 juta plus uang makan,tunjangan keterpencilan dan tunjangan fungsional sekitar 2,5jutaan ya,sama tapi sesuka2nya yang ngeluarkan duit kadang 6 bulan kalo mujur 3 bulan.untungnya pns gaji ga pernah telat. Beda denga PTT daerah yang tahun ini aja telat 6 bulan. Besar ya? Tapi masih lebih besar gajiku di kota. Jangan lupa setoran ke instansinya gayus 15% lo ya.
Oh iya ada serunya juga di daerah terpencil, sekarang kita bicara mistisnya hehehe.
Hantu, banyak. Bahkan puskesmasku dulu kata orang sini memang perkampungan hantu, makanya tidak ada yang mau dirikan rumah. Lah kok malah jadi puskesmas rawat inap ya. Ditunjang lagi dengan pernahnya ditemukan mayat tanpa kepala di kebun pisang belakang puskesmas.klop deh. Hari2 panggilan malam bagai uji nyali, meskipun untung saya ga pernah lihat hantunya. Katanya sih gede kaya genderuwo gitu(ngomong2 nih ngetiknya di pkm sendirian siang2 sepi yang katanya sering keluar juga). Apa relevansinya? Pengalaman pasien2 yang sering ngelihat tiba2 gorden buka sendiri, suara orang jalan-jalan,tiba2 terdengar suara tv menyala di puskesmas yang ga ada tvnya dan banyak cerita misteri lainnya membuat pasien tidak mau rawat di puskesmas dan minta diinfus di rumah. Padahal selain kalo ga salah menurut undang2 ga boleh, aku paling males harus malam2 ke rumah pasien cuma buat betulin infus yang macet. Tapi gimana lagi, itulah masyarakat kita. Untungnya ada perawat baru2 yang kebetulan mau dan seneng duitnya juga, jadi ga terlalu capek akunya.
Bicara soal yang mistis2 disini juara. Banyak penampakan hewan raksasa disini. Tapi emang gede2 sih. Yang ga mistis sih nanti kulampirkan foto ikan kerapu seberat 85 kg dan buaya yang barusan makan orang sepanjang 6 meter. Yang mistis:mulai ular yang begitu besarnya sampai dikira batang pohon dan di duduki(kira2 diameter 1,25 meter deh panjangnya ga tahu langsung lari yang lihat), raja buaya yang kalau timbul ke permukaan panjangnya bisan menutup muara(padahal sungainya 30 meter), hiu yang besarnya sekapal layar(mungkinkah megalodon) atau penampakan seperti ular bermata merah dengan diameter mata 25cm ,berkumis seperti lele dan bertanduk seperti rusa(hayoo mirip apa?naga bukan?). aneh ya? Terlalu mengada-ngada. Tapi kalo yang bercerita orang yang mengalami sendiri dan orangnya berbeda2 agak susah untuk tidak percaya.
Huwaaa panjang banget ceritanya, ga kerasa dah 6 halaman, jadi berapa note ya. Dibuat atas permintaan seorang teman dan semoga bisa menghibur setelah note yang bikin sakit hati kemarin. Hanya di tag kepada orang2 tertentu karena takutnya mengganggu yang tidak berminat membaca cerita keluh kesah dokter pedalaman ini.
Semoga menghibur
dr.Pikasa Retsyah Dipayana
