tulisan ini dibuat atas permintaan seorang teman,sebagai bahan perbandingan dan (mungkin) renungan
di Unair,sistem kurikulum berbasis kompetensi mulai dijalankan sejak angkatan 2005. rangkaian kegiatannya mulai materi pre klinik yg dipadatkan dari 8 semester hingga tinggal 7 semester,materi klinik yg dipadatkan dari 4 semester menjadi 3 semester dengan segala implikasinya,pengalaman klinis yg kurang,beban belajar yg semakin berat dalam waktu yg lebih pendek(karena para pengajar merasa sebagai kompensasi pengalaman yg kurang) hingga kacaunya pembagian rotasi dokter muda(dm) sehingga saat jumlah dm bertumpuk di satu lab maka semakin sedikitlah pengalaman yg bisa didapat,saat jumlah dm terlalu sedikit maka seluruh tenaga dm akan habis untuk pelayanan sehingga seringkali susah untuk berkonsentrasi pada kasus2 yg harusnya mantap dikuasai.
di saat2 akhir masa studi,ada berita yg cukup mengejutkan dari dekanat dan kki.ternyata kewajiban setelah lulus dokter masih cukup panjang sebelum menentukan arah,yang dirinci sebagai berikut:
1.setelah selesai pelantikan mulai menyiapkan pendaftaran ujian kompetensi dokter internship dan menunggu jadwal ujian kompetensi
2.setelah selesai ujian kompetensi,menunggu hasil ujian,bila tidak lulus mengulang dengan menunggu jadwal ujian berikutnya,bila tetap tidak lulus,dilanjutkan dengan ujian modul hingga lulus.setelah lulus,entah langsung lulus maupun melalui ujian ulang maupun modul,tinggal menunggu sampe surat tanda registrasi dokter internshi(STR)p dikirim ke alamat masing2
3.Setelah dapat STR internship,mulailah mengrus pelaksanaan internship di RS dan puskesmas yg menjadi mitra universitas pelaksana pendidikan dokter,selama 2 semester,dengan 'uang lelah' sebesar 1,2 juta/bulan,yang ternyata tidak berupa uang,melainkan tempat tinggal(asrama/kost)dan uang makan
4.Setelah selesai puteran internship dan dinyatakan lulus,maka sudah berhak menyandang gelar dr dan tinggal menunggu Ujian Kompetensi Dokter Indonesia untuk mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) dokter.
Jadi kalo dihitung2 lama pendidikan 5 tahun,lama internship 1 tahun,dan menurut pengalaman saya dulu mulai pelantikan,ukdi hingga STR diterima itu sekitar 6 bulan.jika pelaksanaan UKDI 2 kali berarti minimal 8 bulan sampe 1 tahun lebih.berarti total pendidikan,internship dan tetek bengek birokrasi kurang lebih memakan waktu 7 tahun.
Selesai?apa bisa segera melanjutkan ke pendidikan spesialis atau mungkin praktek pribadi dan mungkin PTT bila yang berminat
Sayangnya belum, setelah proses yang panjang tadi, pemerintah yg sudah mengeluarkan biaya untuk proses internship merasa berhak meminta balas budi berupa kesediaan ditempatkan dimanapun pemerintah membutuhkan dokter selama 1 tahun.Penempatan ini bukan PTT dan tidak bisa dianggap PTT karena kewajiban pemerintah kepada dokter PTT cukup besar,ada gaji yg harus dibayar dan tunjangan terpencil apalagi sangat terpencil yg cukup besar serta harus menyediakan perumahan dinasnya.apabila penempatan ini tidak dianggap sebagai PTT maka semua kewajiban pemerintah itu tidak mengikat lagi,sehingga bisa disesuaikan dengan dana pemerintah yg sangat terbatas yg dialokasikan di bidang kesehatan(sebagai gambaran alokasi dana dinas kesehatan di Kabupaten yg terkaya nomer 2 di Indonesia hanya 0,7-0,8 %,angka yg menakjubkan bukan)
setelah selesai menjalani penempatan selama setahun ini barulah para dokter bisa menentukan arahnya,apakah itu melanjutkan sekolah,praktek pribadi ataupun PTT demi selembar surat keterangan selesai masa bakti yg bisa dijadikan syarat pendidikan spesialis.nah sesuai judulnya,are we so special? apa yang membuat lulusan dokter harus sesulit itu hanya untuk bekerja?it's just a profession isn't it? dokter bukanlah spesies lain yg harus dibuktikan dulu mampu tidaknya,kompeten tidaknya,mengabdi dulu dan segala alasan yg dipake pemerintah untuk melegalkan segala proses tadi.
semua profesi itu sama pentingnya dan sama memegang nyawa manusianya seperti profesi dokter(contoh karena kesalahan administrasi ada guru honorer di daerah terpencil yg tidak gajian selama setahun dan akhirnya bunuh diri karena tidak bisa membeli susu anaknya,masih dari kabupaten yang sama dengan tadi). semua profesi penting dan semua perlu kompetensi,ekonom,akuntan,politikus,insinyur,semua memegang nyawa manusia dengan porsinya sendiri-sendiri, sehingga aku terus bertanya:are we so special?
dr.Pikasa Retsyah Dipayana
Tidak ada komentar:
Posting Komentar