Kamis, 02 September 2010

Mengabdi itu (tidak) mudah (catatan perjalanan dokter cpns daerah terpencil)

Ini soal pengalamanku mulai melamar, tes sampai akhirnya jadi dokter di pulau antah berantah ini. Sekali lagi dibuat berdasar permintaan seorang teman, karena isinya full pengalaman pribadi tidak disarankan yang sama-sama di pedalaman baca. Sama aja soalnya.

Awalnya sih ga niat sama sekali kerja di pedalaman. Cuma karena dulu ada saudara yang menguruskan agar aku dapat beasiswa dari kabupaten ini, akhirnya ibuku maksa untuk balas budi. Padahal sih kabupatennya ga syaratkan gitu, emang dulu bagi-bagi duit karena terlalu kaya aja.

Males juga meninggalkan semua fasilitas dan kemudahan di kota, mana hobiku nonton di bioskop lagi, bakal sengsara di sana. Gaji di Surabaya juga lumayan waktu itu. Karena jadi dokter tetap di 2 klinik swasta, dokter perusahaan bayer dan sebuah perusahaan kontraktor yang bidang usahanya cukup besar, lumayan lah gaji kadang bisa setara dengan ptt daerah sangat terpencil.

Akhirnya berangkat juga ke Kalimantan. Sampai di bandara Balikpapan dan menuju samarinda, kesan cuma satu, kenapa sih di Kalimantan ini tidak ada jalan lurus dan datar T_T

Terombang-ambing jalan yang berkelok-kelok dan naik turun selama 3 jam, cukup membuat perut saya bergejolak. Untung tidak sampai muntah. Setelah tidur semalam di samarinda besoknya perjalanan di lanjutkan ke Sangatta.

Perjalanan ke Sangatta, mengerikan, dengan jalan berkelok naik turun dan hancur selama 6 jam, saya hampir tidak bisa membuka mata karena hampir muntah.Sejak itu istilah bus lag selalu saya pakai setelah melalui jalan trans Kalimantan, karena sekali jalan, badan masih mual-mual ga enak bebearapa hari.

Sampai sangatta, kesan awal satu, ni kota kok cuma jalan kembar gini aja ya. Mana ga ada transport lain lagi. Perjalanan ke kompleks perkantoran pemkab seperti jalan ke daerah benowo, surabaya kalo menurut saya. Jauh, sepi dan ga ada apa-apa selain kompleks kantor tadi. Mana ga ada transportasi lagi. Maka terpaksa ojek seharga 25 ribu sekali jalan jadi opsi satu-satunya. Karena bapak saya ikut sebagai pemandu jalan ya lumayan juga keluarnya berdua pp cuma buat ke kantor aja.

Dan ternyata, banyak persyaratan yang harus di urus, kartu kuning lah dll blablabla. Pergilah ke sisi lain kota buat ngurus kartu kuning di kantor disnaker. Tapi karena dah sore ya terpaksa nginep dulu.

Kesan ke dua soal sangatta, mahalnyaaaaaT_T. Sekali makan penyetan lele disini 20 ribu perorang. Sate dan gule plus minum buat dua orang 85 ribu -_- Emperan semua ya, ga berani ke restoran takut shock neurogenic.Hotelnya sih lumayan, 80 ribuan. Tapi kamar kayu nan gelap yang menurutku sih layaknya jadi gudang. Tapi ga mengeluh sih, bener-bener pengalaman baru aja.

Besoknya ngurus kartu kuning di disnaker, kesalahan kok ngurus kartu kuning pas pembukaan cpns. Ruameee, dijanjikan jadi 5 hari lagi. Karena perbekalan dan ijin cuti kantorku di surabaya terbatas, dicarilah jalan pintas(don’t try it at home), berhubung ada temannya bapakku di disnaker, jadilah secara kilat setengah jam. Maaf ya Allah, ga niat dan ga suka gini, tapi demi melaksanakan perintah ibu, udah berniat mutung juga benernya.

Habis dari disnaker langsung kembali ke atas ke bukit pelangi(nama daerah kompleks perkantoran pemkab) . Sampai sana,urus, urus, urus, selesai sampai jadi kartu peserta, karena ujiannya masih bulan depan pulang dulu deh ke Surabaya. Aduuuh malesnya lewat jalan itu lagi.

Bulan depannya kembali lagi ke sangatta buat ujian, secara ga niat, 30 menit selesai, materinya matematika dasar yang level smp menurutku(maklum mantan guru privat jadi hafal),sama materi-materi ppkn ga jelas gitu. langsung balik ke hotel. Besoknya tes wawancara, nah ketemu oknum guru dan sejawat dokter. Yang sejawat cerita kemarin ini (saya) keluar paling cepat, oknum guru tanya, kenapa?gampang kah? Karena emang ppknnya ga jelas ya kubilang karena ga tahu jawabannya pasti apa ya sejawab2nya aja. Eh terus dia malah ngajak bahas soal, dan jadi merinding, ni oknum guru kok bukan hanya ga bisa ya? Bahkan logika matematika setara smp aja ga dapet. Langsung mantap anakku nanti ga bisa sekolah disini. Memang itu hanya oknum, lha kalo pas ngajar anakku. Itulah kenapa aku selalu bilang bukan hanya dokter yang harusnya dikirim ke pedalaman, profesi lain yang kompeten juga(ada ga sih yang kepikiran bikin uji kompetensi guru Indonesia)

Habis ujian dibilang pegumuman nanti dikabari,sering-sering lihat kantor bkd aja. Wth???!! Kaya dekat aja. Untung sejawat dokter tadi mau ngabari kalau2 ada pengumuman(bener2 menyenangkan sumpah sejawat adalah saudaraJ akhirnya pulang dulu deh ke Surabaya.

Sebulan kemudian dapat kabar lulus dan dipanggil untuk ngurus berkas, shock lagi, disuruh bikin legalisir dari SD sampai ijazah dokter. Mungkin karena pengalaman tahun-tahun kemarin ada dokter yang nggak lulus SD mungkin ya, husnudzon aja. Pulanglah ke Surabaya buat ngurus2 legalisiran habis itu dikirim dan nitip saudara yang disana, nunggu lagi.

Sampai 3 bulan nggak ada kabar, akhirnya karena ada tiket murah ke Singapore berangkat deh jalan-jalan,dan takjubnya, aku nemu makanan yang lebih murah daripada di sangatta. Total jalan-jalan di Singapore kira-kira setengah biayaku daftar pns di Kalimantan. Nah asyik2nya liburan dapat telpon SK udah turun. Huh merusak liburan aja. Sampai Indonesia kutelponlah sejawat disana. Katanya belum dok, SKnya baru keluar beberapa orang aja buat acara simbolis kemarin. Ya sudah akhirnya nunggu lagi.

Pas enam bulan sejak pengumpulan berkas, pas ulang tahunku, SK turun. Entah kado yang diharapkan atau nggak, udah ilfil sama birokrasinya. Tapi akhirnya berangkat juga.

Karena males boyongan dan rencana sekolah lagi, barang-barang kutinggal di kos di Surabaya(masih kubayar sampai sekarang lo, soalnya lebih murah daripada nginep hotel sih kalo aku ke sby). Berangkatlah lagi ke Sangatta. Pas baca SK, wah, pas di desanya kakekku, belum pernah tinggal disana cuma sering mudik pas lebaran.

Lanjutlah perjalanan ke Sangkulirang, 4-5 jam dari sangatta. Jalannya keren euy, buat apa amerika jauh2 ke bulan kalo disini medannya hampir sama. Oh iya, sangkulirang itu pulau, jadi di ujung jalan harus nyebrang laut lagi. Tapi ga usah dibayangkan aneh-aneh, Cuma sekitar 100 meter jaraknya dari pulau utama kalimantannya. Sampai sana nostalgia nginep di rumah nenek.

Karena disana sudah ada 2 dokter dan satu dokter gigi, dan rumah dinas cuma buat kepala puskesmas dan dokter gigi. Terpaksalah mengontrak. Ini alasan saya sangat menolak wajib penempatan, karena kalo dokter harus swadaya untuk mengabdi sangat mahaaaal.

Akhirnya setelah berputar-putar dengan pilihan yang tak terjangkau, didapatlah sebuah kontrakan di atas laut seluas 5x10 meter dengah harga 7,5 juta setahun dibayar cash.

Konsekuensi tinggal di atas laut air bersih tidak ada. WC juga langsung ke laut hehehe. Gpplah pengalaman baru. Tapi mahal juga ternyata. Air bersih bisa habis 25 ribu sehari. Konsekuensi bujangan, makan beli.ga semahal sangatta sih disini 25 ribu sekali makan. Tapi porsinya jumbo. Demi penghematan dan terutama demi menjaga BMI yang makin mendekati obesitas maka makanan seporsi itu dibungkus dan dimakan dua kali. Makanannya aneh-aneh dan nggak ada di jawa. Nasi kuningnya juara, enak banget, dengan daging rusa, ayam atau aneka ikan. Ada kancil/pelanduk bakar, landak dan aneka ikan. Seafoodnya apalagi. Bagi pendatang tidak kusarankan makan udang dan kepiting sangkulirang, karena habis itu kalian tidak akan bisa lagi makan udang ataupun kepiting di jawa. One of the best in the world. Kebetulan ada sejawat yang sudah ngerasakan seafood mulai di Makassar, batam, Jakarta, jimbaran bahkan layar di Surabaya yang menurutku enak banget, karena dia udah ngerasakan seafood sangkulirang semua terasa hambar di lidah..

Ups kok jadi wisata kuliner, lanjut cerita yang lain. Sebagai dokter yang taat hukum (sebenarnya karena kapolseknya ganti dari Balikpapan yang lagi gencar-gencarnya razia SIP T_T) terpaksalah buru-buru ngurus SIP dan Surat Ijin Menyimpan Obat(SIMO) di Dinkes Sangatta. Males benernya, bukan karena ga taat hukum. Bus lag dan biayanya. Karena harus nginep kira-kira habis 500 ribuan lah pp sekali jalan. Datang pertama ke IDI, ga ada semua, terpaksa, balik. Datang ke dua selesai rekom IDI ditaruh ke dinas, tinggal pulang lagi. Datang ke tiga SIP jadi, baru ngurus SIMO (birokrasi, kenapa ga bisa sekalian sih), ngurus ke IDI dan lain-lain. Selesai tinggal balik lagi. Datang ke empat baru jadi semuanya. Baru lega, dan teler juga secara fisik, mental dan finansial.

Mulai lah bisa konsen kerja.Datang ke puskesmas pertama sepiiiii. Cuma satu sampai tiga pasien per hari. Usut punya usut karena praktek dokter swasta sangat murah. Ingat ya harga sekali makan disini 25 ribu. Puskesmas 5 ribu dengan obat generik kalengan. Dokter praktek swasta mulai 35 ribu dengan obat generik bermerk,macam alpara,floxifar gitu(terpaksa ngikut harga segitu T_T) jadi jelaslah dengan harga berbeda tipis dengan sepiring nasi mending ke dokter praktek swasta. Tapi setelah ‘ngobrol2’ dengan pak camat diberi kompensasi lah agar dokter bisa memberi obat dari prakteknya kepada pasien puskesmas. Daripada pasiennya puskesmas sepi?

Karena rawat inap dan ugdnya 24 jam terpaksalah yang paling junior harus mau dipanggil saat dua senior tidur. Ga terlalu berat sih, soalnya kan lumayan nambah pasien, tapi akhirnya karena kebisaaan nungguin panggilan malam jadi insomnia kronis sampai sekarang.

Panggilan pertama di malam hari adalah ibu hamil nyaris partus. Dikonsuli bidan tensinya tinggi. Agak merinding juga ke puskesmas tengah malam soalnya terkenal berhantu. Pas diperiksa kok ada malar rash ya? Pas jantungnya diauksultasi, terdengarlah murmur, kok ya pas saat itu anjing2 liar yang banyak di sangkulirang melolong bersaut-sautan. Horror banget. Langsunglah kusuruh rujuk pasiennya dengan diiringi bu bidan ku. Alhamdulillah lahir di jalan(mau gimana lagi perjalanan ke RS terdekat 5 jam) tapi pas mampir ke dokter kecamatan sebelah tetap disuruh merujuk karena emang gawat. Ga jadi dapat duit deh malam itu.

Beberapa hari kemudian dikonsuli pasien kapus yang sakit malaria. Malaria cerebral jenis falciparum. Bukan kapusnya yang konsul tapi perawatnya karena kapusnya juga kena malaria hehehe, memang dokter juga manusia kok. Melihat kondisinya yang mengerikan menurutku dan karena pas dm ga pernah dapat pasien malaria langsung pulang nyari pdt interna, kok ga nemu bukunya, akhirnya di kapita selekta UI. Kok kayanya harus rujuk ya, kenapa sama bos ga dirujuk. Akhirnya kusampaikan ke keluarganya. Karena obat yang ada di pkm cuma kina, ini tidak bisa dirawat disini. Bapaknya bilang kami mau aja dirujuk tapi kami tidak ada uang. Kan bisa urus surat keterangan tidak mampu(SKTM). Iya dok tapi kami di sangatta makan apa. Ups iya ya, aku aja menggos-menggos makan di sangatta. Dan ternyata karena ga ada ambulan terpaksa pasien harus carter mobil seharga 600 ribuan sekali jalan. Kok bisa ga ada ambulan. Dulu ada ambulan bantuan darimana gitu, kalo ga gubernur ya dari pusat. Tapi katanya karena tidak termasuk inventaris kabupaten maka dinas tidak bisa(atau tidak mau ya? wallahualam) mengeluarkan biaya perawatan. Mangkrak deh. Begitu juga dengan speed boat puskesmas yang tenggelam,karena ga ada dana ya ga diperbaiki.

Lanjut pasien tadi, karena satu dan lain hal(halah kaya apa aja) jatuhlah dia ke sepsis.ga ada lab buat memastikan(lab cuma ada malaria dan tb waktu itu), mau nyoba cek leukosit sendiri ga ada reagen ternyata. Jadilah cuma bisa menunggu sampai pasien mati. Hal paling menyakitkan buat dokter, apalagi masih kelas 3 sma pasiennya.

Kasusnya aneh-aneh sebenarnya di daerah, tapi meskipun di daerah pun yang aneh-aneh itu lumayan jarang. Jadi boseeeeeen banget.

Kalo pas aneh, kadang bisa ada 3 kasus kejatuhan atap di hari yang sama dari 3 rumah yang berbeda, digigit ular, digigit buaya sampai terekspos ginjalnya. Dan sengatan benang2,sebutan orang sini untuk sebuah spesies, yang ternyata setelah kulihat di national geographic namanya box jellyfish, ubur2 yang tentakelnya kaya benang, panjang tentakelnya bisa sampai 120 meter, dan racunnya dalam jumlah yang cukup bisa menyebabkan 100 % total heart cell necrosis dalam jangka waktu 10 menit. Ngeri ya, pantas kena sehelai benang aja orangnya sampai shock neurogenic karena sakitnya.

Praktek sehari-hari kebanyakan sama flu, batuk,pilek. Oh iya yang agak lucu pegel linunya. Pasien banyak yang pegel linu, dan kaya di Madura, xylodela ataupun neurobion jadi permintaan utama. Akhirnya ada satu yang khas kaya gejala asam urat, nyeri sangat di sendi kecil ibu jari kaki. Digunakanlah alat stick asam urat yang baru dibeli. Cek. 16!!

Speechless. Kasih obat pasien pulang. Beberapa hari kemudian ada lagi, cek, 14!! Mulai berpikir alat ini rusak paling, aduh repotnya ngurus garansi ke Surabaya. Besok2nya pasien dengan keluhan pegel linu biasa ku cek, hasilnya: 7, 6, 8,9. wah ternyata orang sini sudah terbisaa dengan asam urat sedemikian tingginya.

Lama kemudian pasien dengan asam urat 16 kembali dengan keluhan yang sama. Kutanya, kemarin makan apa pak

Nggak makan apa-apa dok(khas jawaban orang Indonesia)

Puasa?

Nggak dok maksudnya ,makan kaya biasa

Bisaanya lauknya apa pak

Cuma udang sama cumi aja kok dok

Hadeeeee -_-

Pasien disini untungnya karena merasa biaya dokter murah jadi sering memberi hadiah di luar biaya periksa. Ga tanggung-tanggung mulai ikan,udang, kepiting, telur ikan sampai madu hutan yang harganya ratusan ribu pernah diberikan pasien. Yang lucu pernah pas mau beli makan di warung pasienku, ada lobster panggang. Wah langsung excited karena di sangkulirangpun harga lobster 250rb/kg(gara2 pengusaha bali nih, segala seafood dibawa ke jimbaran jadi mahal). Pas mau kubeli lobsternya kata pemilik warungnya aduh maaf dok, ini anak saya tadi minta, tinggal satu ini. Batal deh. Eh pas ulang tahunku tanpa disengaja dia ngasih lobster itu. Hwaaaa keturutan akhirnya makan lobster. Enak banget, karena udangnya aja seenak itu, ga tahu juga gimana rasa lobster di luar sangkulirang, ga pernah makan, kan mahal banget.


Kembali kok jadi wisata kuliner lagi, lanjut ke cerita pasien aja. Datang ibu hamil dengan tekanan darah 160/100 dan proteinuria ++. Kusuruh dirujuk, pasien minta nanti aja pas waktu melahirkan. Kubilang nanti perjalanannya kan 5 jam ke RS dan SpOG terdekat, bahaya. Kata mereka kami mau aja dok, tapi kami nunggu kelahiran tinggal dimana,biaya hidupnya kami juga ga ada. Aku diam lagi. Ajaibnya ibu itu lancar melahirkan normal di sangkulirang. Mungkin kalo semua sangkaan terburuk kita pada ibu hamil tidak tertolong oleh keajaiban gini rasanya jumlah penduduk Indonesia bisa ga sampai 200 juta. Hidup memang penuh keajaiban.

Keajaiban pula saat merawat pasien dengan black water fever, malaria dengan hematuria yang kontraindikasi kina sementara obat puskesmas cuma ada itu. Terpaksa dimasukkan aja kina infusnya karena pasien tidak ada dana untuk dirujuk, sama keluarga pasien tidak punya biaya hidup di sangatta. Ajaibnya pasien selamat.

Harus kuakui para seniorku punya pengalaman lebih soal malaria. Ada anak 9 tahun datang dengan malaria cerebral dan Hb 7. Standar, tidak punya uang buat dirujuk. Akhirnya dengan artesunate(baru2 ini adanya) saja. Pasien sembuh

Nah berikutnya keahlianku, secara ujian interna dapat DHF dan pediatric lolos prof soebi dengan kasus DHF. Cukup pede dengan pengalamanku. Para dokter senior disini karena sekolah sebelum jaman2nya outbreak dhf, jadi tidak terlalu pede, yah mungkin sama kaya aku menghadapi malaria. Setiap rumple leed positif rujuk. Sementara aku dengan pedenya merawat yang klinisnya baik. Sampai karena banyaknya pasien outbreak, kecapekan, sakitlah aku, gejala typhoid, setelah 2 hari, muncul ptechiae di tanganku T_T

Terpaksa langsung ke samarinda buat periksa trombosit aja.kenapa samarinda? Karena hanya dengan beda transport 20 rb biaya hidup di samarinda lebih murah. Ngerasain perasaan pasien 8 jam dalam keadaan sakit. alhamdulillah trombositnya diatas seratus ribu. Makan yang banyak, besoknya dah naik. Pas balik-balik ke sangkulirang, mulailah disimpulkan. Tahun itu adalah pertama kali adanya kasus demam berdarah di sangkulirang, mungkinkah ada yang membawa virus itu dari daerah endemis dhf, Surabaya misalnya. Heeee meskipun bercanda tapi mereka menuduhku penyebab outbreak(mungkin juga ya)

Beberapa pasien complain, kenapa mereka punya SKTM tetap disuruh bayar oleh kapusku. Ternyata memang pasien tersebut menggunakan ceftriaxone injeksi yang memang tidak disediakan dinas dan dibeli sendiri oleh dokter (kebijakan dinas adalah pasien yang butuh ceftriaxone harus dirujuk ke RS). Akhirnya, dengan semangat ingin menggratiskan pasien SKTM, dipakailah full obat puskesmas.

Jujur aku lupa pasiennya sakit apa, tapi yang jelas butuh antibiotic injeksi, dan akhirnya kupakailah satu-satunya yang ada di puskesmas waktu itu. Terramycin injeksi. Sebuah larutan obat dalam minyak sebanyak 10 cc. menyedotnya dari vial amat sangat berat sekali, seandainya sering pasien gini jelas dokter dan perawat ga butuh body building. Ga kebayang rasanya disuntikkan ke pasien. Dan menurut brosur, dosisnya sehari 3 kali intramuskuler!! Pagi disuntikkan pantat kiri, siang disuntikkan pantat kanan malamnya pas kuperiksa pasiennya tengkurep, terus bilang udah dok gpp saya bayar aja, pake obat biasanya ajaJ

Jelas bukan mau kita untuk tidak menggratiskan pasien tidak mampu, tapi seperti itulah keadaannya. Pasien tidak bisa dirujuk karena banyak variable diluar tanggungan pemerintah yang mereka harus bayar, dan jumlahnya tidak sedikit. Itulah kenapa seperti kubilang di note sebelumnya, masalah kesehatan tidak mungkin bisa selesai tanpa pembangunan di segala bidang yang harusnya mulai dicicil sejak puluhan tahun yang lalu tapi bahkan belum dimulai sejak sekarang.

Oh iya aku belum cerita soal gaji ya. Duit nih pasti jadi motivasi juga ya. Gaji dokter PTT daerah disini sekitar 1,5 juta dengan uang makan 200 ribu per bulan yang diterimanya sesuka2 dprd bikin anggaran. Kalo cpns kaya aku dapat 1,6 juta plus uang makan,tunjangan keterpencilan dan tunjangan fungsional sekitar 2,5jutaan ya,sama tapi sesuka2nya yang ngeluarkan duit kadang 6 bulan kalo mujur 3 bulan.untungnya pns gaji ga pernah telat. Beda denga PTT daerah yang tahun ini aja telat 6 bulan. Besar ya? Tapi masih lebih besar gajiku di kota. Jangan lupa setoran ke instansinya gayus 15% lo ya.

Oh iya ada serunya juga di daerah terpencil, sekarang kita bicara mistisnya hehehe.

Hantu, banyak. Bahkan puskesmasku dulu kata orang sini memang perkampungan hantu, makanya tidak ada yang mau dirikan rumah. Lah kok malah jadi puskesmas rawat inap ya. Ditunjang lagi dengan pernahnya ditemukan mayat tanpa kepala di kebun pisang belakang puskesmas.klop deh. Hari2 panggilan malam bagai uji nyali, meskipun untung saya ga pernah lihat hantunya. Katanya sih gede kaya genderuwo gitu(ngomong2 nih ngetiknya di pkm sendirian siang2 sepi yang katanya sering keluar juga). Apa relevansinya? Pengalaman pasien2 yang sering ngelihat tiba2 gorden buka sendiri, suara orang jalan-jalan,tiba2 terdengar suara tv menyala di puskesmas yang ga ada tvnya dan banyak cerita misteri lainnya membuat pasien tidak mau rawat di puskesmas dan minta diinfus di rumah. Padahal selain kalo ga salah menurut undang2 ga boleh, aku paling males harus malam2 ke rumah pasien cuma buat betulin infus yang macet. Tapi gimana lagi, itulah masyarakat kita. Untungnya ada perawat baru2 yang kebetulan mau dan seneng duitnya juga, jadi ga terlalu capek akunya.

Bicara soal yang mistis2 disini juara. Banyak penampakan hewan raksasa disini. Tapi emang gede2 sih. Yang ga mistis sih nanti kulampirkan foto ikan kerapu seberat 85 kg dan buaya yang barusan makan orang sepanjang 6 meter. Yang mistis:mulai ular yang begitu besarnya sampai dikira batang pohon dan di duduki(kira2 diameter 1,25 meter deh panjangnya ga tahu langsung lari yang lihat), raja buaya yang kalau timbul ke permukaan panjangnya bisan menutup muara(padahal sungainya 30 meter), hiu yang besarnya sekapal layar(mungkinkah megalodon) atau penampakan seperti ular bermata merah dengan diameter mata 25cm ,berkumis seperti lele dan bertanduk seperti rusa(hayoo mirip apa?naga bukan?). aneh ya? Terlalu mengada-ngada. Tapi kalo yang bercerita orang yang mengalami sendiri dan orangnya berbeda2 agak susah untuk tidak percaya.

Huwaaa panjang banget ceritanya, ga kerasa dah 6 halaman, jadi berapa note ya. Dibuat atas permintaan seorang teman dan semoga bisa menghibur setelah note yang bikin sakit hati kemarin. Hanya di tag kepada orang2 tertentu karena takutnya mengganggu yang tidak berminat membaca cerita keluh kesah dokter pedalaman ini.

Semoga menghibur

dr.Pikasa Retsyah Dipayana




Are we so special?

tulisan ini dibuat atas permintaan seorang teman,sebagai bahan perbandingan dan (mungkin) renungan


di Unair,sistem kurikulum berbasis kompetensi mulai dijalankan sejak angkatan 2005. rangkaian kegiatannya mulai materi pre klinik yg dipadatkan dari 8 semester hingga tinggal 7 semester,materi klinik yg dipadatkan dari 4 semester menjadi 3 semester dengan segala implikasinya,pengalaman klinis yg kurang,beban belajar yg semakin berat dalam waktu yg lebih pendek(karena para pengajar merasa sebagai kompensasi pengalaman yg kurang) hingga kacaunya pembagian rotasi dokter muda(dm) sehingga saat jumlah dm bertumpuk di satu lab maka semakin sedikitlah pengalaman yg bisa didapat,saat jumlah dm terlalu sedikit maka seluruh tenaga dm akan habis untuk pelayanan sehingga seringkali susah untuk berkonsentrasi pada kasus2 yg harusnya mantap dikuasai.


di saat2 akhir masa studi,ada berita yg cukup mengejutkan dari dekanat dan kki.ternyata kewajiban setelah lulus dokter masih cukup panjang sebelum menentukan arah,yang dirinci sebagai berikut:


1.setelah selesai pelantikan mulai menyiapkan pendaftaran ujian kompetensi dokter internship dan menunggu jadwal ujian kompetensi


2.setelah selesai ujian kompetensi,menunggu hasil ujian,bila tidak lulus mengulang dengan menunggu jadwal ujian berikutnya,bila tetap tidak lulus,dilanjutkan dengan ujian modul hingga lulus.setelah lulus,entah langsung lulus maupun melalui ujian ulang maupun modul,tinggal menunggu sampe surat tanda registrasi dokter internshi(STR)p dikirim ke alamat masing2


3.Setelah dapat STR internship,mulailah mengrus pelaksanaan internship di RS dan puskesmas yg menjadi mitra universitas pelaksana pendidikan dokter,selama 2 semester,dengan 'uang lelah' sebesar 1,2 juta/bulan,yang ternyata tidak berupa uang,melainkan tempat tinggal(asrama/kost)dan uang makan


4.Setelah selesai puteran internship dan dinyatakan lulus,maka sudah berhak menyandang gelar dr dan tinggal menunggu Ujian Kompetensi Dokter Indonesia untuk mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) dokter.


Jadi kalo dihitung2 lama pendidikan 5 tahun,lama internship 1 tahun,dan menurut pengalaman saya dulu mulai pelantikan,ukdi hingga STR diterima itu sekitar 6 bulan.jika pelaksanaan UKDI 2 kali berarti minimal 8 bulan sampe 1 tahun lebih.berarti total pendidikan,internship dan tetek bengek birokrasi kurang lebih memakan waktu 7 tahun.


Selesai?apa bisa segera melanjutkan ke pendidikan spesialis atau mungkin praktek pribadi dan mungkin PTT bila yang berminat


Sayangnya belum, setelah proses yang panjang tadi, pemerintah yg sudah mengeluarkan biaya untuk proses internship merasa berhak meminta balas budi berupa kesediaan ditempatkan dimanapun pemerintah membutuhkan dokter selama 1 tahun.Penempatan ini bukan PTT dan tidak bisa dianggap PTT karena kewajiban pemerintah kepada dokter PTT cukup besar,ada gaji yg harus dibayar dan tunjangan terpencil apalagi sangat terpencil yg cukup besar serta harus menyediakan perumahan dinasnya.apabila penempatan ini tidak dianggap sebagai PTT maka semua kewajiban pemerintah itu tidak mengikat lagi,sehingga bisa disesuaikan dengan dana pemerintah yg sangat terbatas yg dialokasikan di bidang kesehatan(sebagai gambaran alokasi dana dinas kesehatan di Kabupaten yg terkaya nomer 2 di Indonesia hanya 0,7-0,8 %,angka yg menakjubkan bukan)


setelah selesai menjalani penempatan selama setahun ini barulah para dokter bisa menentukan arahnya,apakah itu melanjutkan sekolah,praktek pribadi ataupun PTT demi selembar surat keterangan selesai masa bakti yg bisa dijadikan syarat pendidikan spesialis.nah sesuai judulnya,are we so special? apa yang membuat lulusan dokter harus sesulit itu hanya untuk bekerja?it's just a profession isn't it? dokter bukanlah spesies lain yg harus dibuktikan dulu mampu tidaknya,kompeten tidaknya,mengabdi dulu dan segala alasan yg dipake pemerintah untuk melegalkan segala proses tadi.


semua profesi itu sama pentingnya dan sama memegang nyawa manusianya seperti profesi dokter(contoh karena kesalahan administrasi ada guru honorer di daerah terpencil yg tidak gajian selama setahun dan akhirnya bunuh diri karena tidak bisa membeli susu anaknya,masih dari kabupaten yang sama dengan tadi). semua profesi penting dan semua perlu kompetensi,ekonom,akuntan,politikus,insinyur,semua memegang nyawa manusia dengan porsinya sendiri-sendiri, sehingga aku terus bertanya:are we so special?


dr.Pikasa Retsyah Dipayana

Hal-hal yang Dirahasiakan Dokter dari Masyarakat

Banyak hal yang dirahasiakan dokter dari pasiennya dan masyarakat umum, mau tahu apa saja? Berikut rinciannya:
• Hanya orang kaya yang bisa jadi dokter
Ini rahasia paling utama, sebenarnya para dokter juga tidak berniat merahasiakannya, karena sebenarnya tugas media untuk menyiarkan ini.
Saya bukan berasal dari keluarga orang kaya, selama sekolah orang tua saya mungkin hanya mengeluarkan uang biaya hidup saja(sekolah apapun biaya ini ada kan?), karena seluruh kebutuhan sekolah saya sudah dipenuhi dari beasiswa. Ada ratusan beasiswa yang ditawarkan di fakultas kedokteran, beberapa bahkan cukup untuk memenuhi biaya sekolah dan biaya hidup dari pendaftaran sampai lulus. Yang penting ada kemauan pasti ada jalan.

• Sekolah di fakultas kedokteran itu luar biasa mahal
Saya rinci ya, biaya sekolah saya(mulai tahun 2001-2007) adalah uang daftar ulang 300ribu, SPP per semester 400ribu(12 semester), uang ikoma 4 juta yang saya cicil selama 3 tahun, uang wisuda 500 ribu,uang pelantikan 300 ribu, total 9,9 juta(bersih, tidak ada biaya yang saya sembunyikan, dan semua dalam rupiah). Semua terpenuhi dari beasiswa. Memang untuk buku habis cukup banyak, tapi sebagian besar saya pinjam dan fotocopy meskipun ada yang beli dari uang beasiswa. Dan buku kan memang biaya yang wajar karena sekolah mahal ataupun murah semua memakai buku untuk proses belajarnya. Adakah yang kuliah jurusan lain sekitar tahun itu yang membayar lebih mahal? Banyak sekali. Itulah kenapa banyak dokter yang menyekolahkan anaknya di fakultas kedokteran,karena murah.
Tapi kok di Koran di tulis ratusan juta? well controversy sell news better than fact. Pada angkatan saya 270 orang membayar seperti saya, sisanya sebanyak 63 orang membayar ikoma mulai 50 juta rupiah dan SPP 5 juta/semester(yang disebut jalur khusus). Tapi jangan kira yang membayar lebih itu lebih bodoh, mereka orang-orang yang mungkin tidak lulus umptn(yang bisa jadi karena kesalahan teknis)ataupun karena faktor usia tidak bisa ikut umptn. Pada waktu kelulusan, rangking satu di angkatan saya adalah anak yang tidak lulus umptn di tahun pertama(jadi baru tahun berikutnya dia lulus umptn) dan ada pula anak jalur khusus yang masuk 10 besar. Sementara saya yang bayar murah, seratus besar pun tidak masuk.
Harus diakui sekarang jumlah jalur khusus semakin banyak, dan semakin mahal. Tapi lucunya, ternyata hanya 50% yang diberikan ke fakultas kedokteran, sedangkan sisanya digunakan universitas untuk operasional mereka(termasuk membiayai fakultas-fakultas lain). Itupun sistemnya, 100% dana masuk ke universitas, nanti yang 50% itu dikeluarkan sedikit-sedikit sesuai proposal anggaran. Jadi ingat bahkan waktu lampu ruang kerja profesor saya mati untuk mengganti bohlam itu pun harus pake proposal, yang akhirnya beliau ganti dengan uang sendiri. Jadi saat biaya masuk FK jadi semahal itu, harusnya dipertanyakan, terus anggaran pendidikan yang 20 % dari APBN itu manajemennya bagaimana? Kok sampai ada beberapa fakultas yang dikorbankan imagenya (dianggap mata duitan) untuk membiayai operasional seluruh universitas.
Kalo fakultas kedokteran universitas swasta mahal, ya jelas. Selain karena sistem beberapa fakultas (biasanya FK dan FKG) mensubsidi semua itu juga berlaku, swasta kan artinya profit taking. Fakultas manapun pasti lebih mahal daripada fakultas yang sama di universitas negerinya kan.

• Setelah jadi dokter langsung kejar target balik modal
Kalo yang modal dengkul kaya saya apa yang mau dibalikin ya? Kan dengkul saya masih ada.
Percayalah, memang di setiap profesi ada oknum yang menjelekkan nama, tapi kebanyakan dari kami tidak ada istilah kejar setoran untuk balik modal. Kebanyakan dokter adalah pribadi yang nrimo berapapun rejeki yang diberikan Tuhan(buktinya dengan banyaknya tulisan yang menjelekkan dokter hanya sebagian kecil kan yang mau repot mengklarifikasi,sebagian besar yang lain nrimo). Tapi itu juga artinya nrimo berapapun pasiennya,sebanyak dan sesedikit apapun. Karena dokter yang pasiennya banyak tidak menolak pasien kesan kejar setoran itu muncul. Percayalah, sebanyak apa dokter yang anda lihat kaya, lebih banyak dari itulah yang hidup bersahaja. Terutama yang mengabdikan dirinya untuk mengajar. Banyak dosen saya yang masih naik becak saat berangkat mengajar, di usianya yang mendekati usia pensiun.

• Biaya berobat mahal karena tarif dokter begitu mahal
Nah ini juga karena kekurang telitian yang berbicara. Jika anda berobat, coba cek notanya, jujur hampir tidak ada nota yang 50% biayanya adalah biaya periksa. Porsi terbesar biasanya obat, laboratorium, dan bahan habis pakai(seperti oksigen, kasa,dll). Biaya periksa yang sudah kecil(biasanya sekitar 25%) tadi juga masih dibagi untuk operasional klinik atau rumah sakit. Sebagai gambaran saat saya bekerja di klinik swasta dari biaya periksa 25ribu/pasien, honor dokter adalah 5 ribu. Sesuaikah dengan bayangan anda?
Di klinik yang sama juga biaya periksa dokter spesialis adalah 75 ribu/pasien, honor dokter 50 ribu. Besar tapi jika dilihat bahwa lama seorang lulusan sma kuliah sampai menjadi dokter spesialis adalah minimal 11 tahun(itupun kalau lancar ya,dan ga pake ke pedalaman dulu) saya tidak yakin kalo anda mau menerima bayaran lebih murah dari itu jika berada di posisi yang sama. Meskipun hebatnya banyak dosen saya yang spesialis masih menetapkan tarif periksa praktek swasta 35 ribu per pasien.

• Harga obat dokter mahal sekali
Wah, saya mau bilang apa ya. Doakan saya segera punya pabrik obat biar saya produksi obat murah, tapi masalahnya anda mau minum tidak. Sering saya resepi pasien obat generik yang harganya sepersepuluh harga obat paten yang kemudian ditolak mentah-mentah oleh pasien tersebut. Hanya dibawah sepuluh persen pasien saya yang mau diberi obat generik, jadi salah siapa.
Ada penulis yang membandingkan sebotol infus berisi nutrisi berharga 600 ribu, dengan sepiring nasi warteg. Saya berharap beliau bisa segera memproduksi infus nutrisi seharga nasi warteg tersebut, karena kalau memang bisa, banyak sekali pasien saya yang membutuhkan.

• Dokter jadi anak emas pemerintah dibandingkan profesi kesehatan lain
Saya tidak memungkiri kalau profesi dokter diperlakukan spesial oleh pemerintah. Calon dokter disuruh sekolah lama dengan alasan kompetensi, dan masih wajib diuji kompetensi setelah lulus. Dianggap berutang kepada pemerintah sehingga wajib mengabdi, ditempatkan ke ujung-ujung pedalaman yang bahkan pemerintah sendiri tidak mau menengoknya, dengan gaji seadanya, kadang berangkat dengan biaya sendiri, agar masyarakat di pedalaman tadi merasa diperhatikan dan tidak minta merdeka. Cuma jujur, saya belum tahu kalau istilah itu sudah diganti dari diskriminasi menjadi anak emas. Atau mungkin guru bahasa Indonesia saya tidak update ilmu ya.

• Anak saya harus jadi dokter agar bisa kaya
Mohon maaf kepada orang tua yang bercita-cita seperti itu, sebaiknya jangan dimasukkan fakultas kedokteran. Memang ada dokter yang bisa kaya, tapi perhatikan bahwa mereka jadi kaya karena berhemat dan menggunakan uangnya untuk bisnis lain. Saya pastikan tidak ada satupun dokter yang kaya dari hasil praktek kedokterannya, hidup cukup mungkin, tapi untuk kaya pasti dia dapatkan dari bisnis lain. Dan yang pasti dari beberapa dokter yang anda lihat hidup berkecukupan, lebih banyak lagi yang hidup sederhana. Banyak diantara mereka yang mencicil rumah dan mobil mereka, sama seperti karyawan yang lain, hanya saja mereka tahu betapa kecil penghargaan setiap orang yang mereka layani, sehingga mereka lebih hemat dan tampaknya memiliki harta lebih banyak. Banyak oknum karyawan yang hanya datang absen selama 20 hari kerja untuk mendapatkan gaji 1 juta. Sementara dokter harus melayani 200 orang dengan sabar untuk mendapatkan jumlah yang sama. Itulah yang membuat perlakuan kami terhadap hasil kerja kami berbeda.

• Banyak dokter yang melakukan malpraktek
Harus diakui memang, apalagi budaya Indonesia yang sungkanan dan pasien yang merasa dengan membayar mereka berhak minta dilayani apa saja. Saya juga pernah, kadang menuliskan surat sakit untuk saudara, maupun menuliskan surat kesehatan pasien yang memohon-mohon karena dia butuh kerja. Itulah malpraktek yang kadang-kadang dengan sengaja kami lakukan. Pernahkah anda merasa itu bentuk malpraktek? Bukanlah anda periksa terus tidak sembuh, ataupun jadi sakit karena alergi setelah minum obat dokter, yang diproduksi sebenarnya oleh pabrik obat. Bukan kuasa kami soal kesembuhan maupun alergi itu. Memang, tidak jarang ada kesalahan dari pihak dokter, tapi kami adalah orang yang menjaga kehormatan. Bila ada sejawat kami yang salah kami bilang salah begitu pula sebaliknya. Maka jika ada tudingan malpraktek harap perhatikan proses persidangannya, proses pembuktian benar dan salahnya. Karena keputusan bukan malpraktek hampir tidak pernah diberitakan.
Lucunya, sama seperti reaksi obat seharusnya yang dituntut adalah pabrik obatnya, ada pabrik yang memproduksi racun dan dikonsumsi oleh jutaan masyarakat Indonesia tapi tidak pernah dituntut seperti dokter yang berusaha menolong pasiennya.

Sementara itu dulu yang bisa saya beberkan dari rahasia para dokter. Semoga bisa membuka pandangan, bahwa anggapan sering sekali tidak sesuai dengan kenyataan, karena sebagai manusia sering yang kita lihat adalah yang kita ingin lihat. Buat para sejawat semoga tulisan ini bisa mengembalikan keikhlasan kita dalam setiap proses, baik saat menuntut ilmu maupun melayani pasien, karena tidak ada balasan di dunia yang bisa dibandingkan dengan balasan di akherat nanti.

dr.Pikasa Retsyah Dipayana

Saat Para Calon Dokter Memprotes


Saat ini (mungkin bukan saat ini saja ya, tapi anggaplah saat ini lebih dari biasanya) para calon dokter dan dokter sedang disorot media, baik karena opini seseorang (baca kompasiana:para dokter muda itu sombong sekali.) maupun soal demo para dokter muda menolak ujian kompetensi dokter indonesia(UKDI)

Saya ingin menyikapi yg kedua. Banyak orang beranggapan, bahkan dari kalangan dokter sendiri, apa yang dilakukan para dokter muda itu memalukan. Bahkan ada sejawat yang bilang: apa tidak malu dengan jas putih yang dipakainya.Berbeda dengan itu, saya setuju dengan penolakan itu,meskipun mungkin kurang setuju dengan caranya, tapi bahkan saya dengan tegas menolak ujian kompetensi dan segala kebijakan diskriminatif yang jika kita lihat lebih dalam hanyalah pelarian pemerintah dari masalah sebenarnya.

Mungkin ada yg berpikir,pasti dokter ini tidak lulus ujian kompetensi,sayangnya anda harus kecewa, saya, mahasiswa fk dengan IPK dibawah 3, lulus UKDI tanpa belajar dan hanya menggunakan satu jam dari total tiga jam waktu pelaksanaan UKDI. Benar tidaknya ini, rasanya cukuplah kata-kata saya saja yang dipercaya,karena jika anda tidak percaya tidak ada gunanya anda meneruskan membaca.

Apa maksud saya menyombong seperti itu? Itu bukan menyombong,ujian seperti itukah yg diharapkan menilai kompetensi dokter indonesia. Oke ada yg tidak lulus,mungkin faktor nasib seperti saya juga bisa lulus karena faktor nasib,jadi yg diuji kompetensi atau nasib?

Kalo ujian ini begitu mudahnya, adakah alasan untuk menolaknya? Jawabnya ya, BIROKRASI ujian ini terlalu membuang tenaga,waktu dan biaya apalagi jika akhirnya ujian yang diberikan sama atau bahkan dibawah standar kelulusan universitas masing-masing. Sebagai gambaran pengalaman saya ya, sejak setelah lulus dan dilantik sebagai dokter, ikut UKDI,sampai menerima STR dan selesai mengurus surat ijin praktek,semuanya selesai dalam waktu 7 bulan. Dan selama 7 bulan itu saya tidak bisa dan tidak boleh memeriksa pasien sama sekali. Menurut anda, lebih kompeten mana dokter fresh graduate dengan yang sudah menganggur 7 bulan? Anda yang memutuskan.

Lepas dari masalah layak atau tidaknya ujian itu, apa yang membuat profesi dokter, harus diperlakukan berbeda dari profesi lain? Apakah para dosen fakultas Kedokteran sedemikian tidak kompetennya,sehingga para dosen jurusan teknik, farmasi, akuntansi, hukum, sosial politik dan lainnya dapat langsung meluluskan anak didiknya tanpa perlu diragukan kompetensinya. Kesenjangan ilmu antar universitas itu pasti terjadi, di jurusan apapun, tapi tetap tidak ada ujian kompetensi untuk menyetarakan lulusan ITB dan lulusan institut swasta dari kota kecil.

Ada alasan, bahwa dokter adalah profesi yang berhubungan dengan nyawa, saya jawab semua memiliki porsi masing-masing dalam suatu proses menyelamatkan sebuah nyawa. Saya ingat kasus kesalahan pemberian obat karena kekurangan kompetensi asisten apoteker pembaca resep, maupun kasus sangkaan malpraktek saat dokter anestesi mengalirkan oksigen dari tabung berlabel O2 tetapi salah isi dengan CO2 yang sebenarnya adalah tanggung jawab petugas pengisian gas..

Bahkan seringkali pasien seorang dokter itu meninggal bukan karena kurang kompetensi tetapi karena obat dan alat yang mendukung kompetensi itu tidak ada dan untuk merujuk ke yang lebih lengkap sering transportasinya tidak ada. Jelas masalahnya lebih kompleks dari ada tidaknya dokter yang kompeten kan?

Sekarang coba kita berpikir sedikit out of the box ya

Kebijakan pemerintah kepada dokter biasanya diawali tuntutan masyarakat atau dunia. Katakanlah puluhan tahun yang lalu, saat ada wajib kerja sarjana(yg herannya meskipun yang lain juga bergelar sarjana tapi ini khusus lulusan fk dan fkg) atau yang saat ini disebut PTT(pegawai tidak tetap), pemerintah dituntut meningkatkan derajat kesehatan masyarakatnya secara merata dengan apapun indikatornya,ambil saja satu, angka kematian ibu. Maka diadakanlah program wajib kerja sarjana tadi sebagai solusi instan masalah tadi (umumnya dokter tahu,bukan hanya pemerintahnya yg doyan yg instan,masyarakat juga). Tidak salah, tapi tidak benar juga, Karena masalah kesehatan bukan hanya tidak adanya dokter, tapi masalah yg kompleks mulai sistem kesehatan,rujukan dan juga masalah teknis seperti ketersediaan transportasi maupun pembangunan segala aspek di daerah yg harusnya,mulai dicicil sejak puluhan tahun yang tahun juga.

Sekarang,puluhan tahun sejak dokter wajib kerja sarjana pertama diberangkatkan, bagaimana hasilnya? Sudahkah kita,berhasil meningkatkan kesehatan masyarakat kita,seperti yang dilakukan negara tetangga kita, yg notabene merdeka setelah kita? Berhasilkah kita menurunkan angka kematian ibu seperti harapan puluhan tahun yang lalu? Apakah kondisi lain yang saya harap dicicil pemerintah itu sudah ada pada kondisi yang seharusnya? Saya rasa tidak perlu saya jawab.

Jika ada yg beranggapan saya tidak mau mengabdi bisa dikonfirmasi posisi saya sekarang di pulau sangkulirang, kalimantan timur,12 jam dari bandara balikpapan.cukup terpencil dibandingkan jarak beberapa daerah sangat terpencil yang ditetapkan depkes. Karena itulah saya bisa bilang, betapa kondisi dan permasalahan yang puluhan tahun ada dibiarkan tetap sebagaimana adanya.

Sekarang setelah beberapa puluh tahun indonesia merdeka,masyarakat masih menuntut karena jeleknya pelayanan kesehatan, banyaknya malpraktek (menurut kacamata media,karena saat suatu kasus yg diberitakan malpraktek oleh media, saat diputuskan hakim bukan malpraktek tidak bakal dimuat lagi di media tadi hasil putusan tersebut) dan banyaknya pasien indonesia yang berobat keluar negeri.

Lagi-lagi pemerintah mengambil jalan pintas,muncul perintah tingkatkan kompetensi dokter,standarisasi dengan ujian kompetensi dan surat registrasi.

Dan dokter,yang kebanyakan memang berhati mulia (meskipun saya tidak menutupi ada yg tidak) menurut dan tidak menolak.

Sekarang, setelah hampir 5 tahun pelaksanaan ujian kompetensi dokter,adakah harapan tadi tercapai? Meningkatkah pelayanan kesehatan? Berkurangkah pemberitaan malpraktek dan pasien yang berobat keluar negeri?

Sekali lagi,entah pemerintah sadar atau tidak, pelayanan itu bukan masalah satu orang dokter, itu masalah sistem keseluruhan, dan harus diperbaiki secara simultan bukan cuma satu aspek saja.

Sebagai gambaran, ambil contoh singapore, tempat orang kita sering lari untuk berobat.Kita bahas satu persatu masalahnya ya

1.Dokter Indonesia tidak manusiawi, tidak menganggap pasien manusia, tidak ramah pada pasien

Tidak ada pembelaan diri,mungkin,bukan, pasti banyak yang seperti itu. tapi coba kita ambil perbandingan ya. Di Singapore,satu dokter hanya memegang pasien dengan jumlah yang manusiawi. Di Indonesia? Seorang dokter puskesmas bisa melayani 100 pasien sehari. Mungkinkah diharapkan sama?

Di Singapore setiap pasien dijamin asuransi, jika pasien itu dari luar negeri dan tidak punya asuransipun pasti mampu kan. Pernah tahu kasus pasien di luar negeri warga negara asing yang tidak punya asuransi dan uang? Percayalah saat itu perlakuan dokter Indonesia masih jauh lebih manusiawi.

Dokter juga manusia,saya berat menulisnya tapi kami juga butuh materi, tapi percayalah kami berusaha tidak materialistis(saya masih menarik tarif flat 35ribu/pasien periksa+obat di praktek swasta saya,saat harga sepiring nasi di warung emperan disini 25ribu). Haram hukumnya kami menolak pasien karena uang (semoga laknat Tuhan bagi yang melakukannya), tapi terus terang hal itu juga mempengaruhi sikap kami. Bukan salah kami semata-mata sebenarnya,adakah diantara teman-teman non dokter yang membaca tulisan ini yang tidak jengkel saat antri lama di dokter padahal anda merasa membayar? Pemikiran semacam itulah yg membuat kami juga secara alam bawah sadar membedakan pasien yang bayar dan tidak bayar (meskipun saya tidak pernah tidak melayani bahkan asal pasiennya bilang tidak punya uang pasti saya gratiskan periksa dan obatnya-yang saya beli dengan uang saya)

Jujur,menghadapi pasien dengan pikiran bercabang masalah uang (dan berbagai masalah lainnya termasuk ribetnya jadi dokter di Indonesia) itu pasti berbeda dengan dokter di singapore yang tidak berpikir masalah itu. Dan harus diakui, uang itu seperti candu, jadi kalau kami mendapatkan uang sesuai jumlah pasien pasti akan kecanduan untuk mencari pasien sebanyak-banyaknya kan? Meskipun alhamdulillah, saya bisa dikatakan tidak kecanduan(bukannya menyombong tapi silahkan tanya perawat yang mendampingi saya disini). Itu agak sedikit berbeda dengan sistem di singapore dimana dokter tidak dikondisikan untuk mencari pasien sebanyak-banyaknya.

2.Rumah sakit di Indonesia pernah menolak pasien

Sistem asuransi ini vital,dan inilah yang membedakan pelayanan kita dan luar negeri. Segala masalah tadi tidak akan terjadi jika kita punya sistem penjaminan pembayaran yang baik.

Kan ada askes dan askeskin? Tahukah anda berapa jasa dokter menurut askes,hanya beberapa puluh rupiah setiap visite(benar anda tidak salah baca,beberapa puluh rupiah,dan ini belum diredenominasi).layakkah itu? Anda yang memutuskan.

Saat saya masih dokter muda,sempat terjadi kasus besar penolakan pasien maskin di RSUD tempat saya menuntut ilmu, karena Askes masih menunggak tagihan alat dan obat sebesar hampir 100 milyar rupiah kalau tidak salah. Menurut anda hebatkah sebuah rumah sakit pemerintah yang nirlaba mempunyai uang sebesar itu? Tidak itu juga utang dari supplier alat dan obat. Jadi salah siapa?

Kalau ada pasien datang ke sebuah rumah sakit, butuh pertolongan, percayalah dokter dan paramedis disana tidak jarang keluar uang untuk membelikan obat maupun alat buat pasien tadi karena rumah sakit sudah tidak bisa (bukan tidak mau) ngutang lagi. Tapi sampai berapa banyak? Kami,dokter bukanlah orang kaya(sebagai contoh saya hanya meminta jasa periksa antara 5-10 ribu perpasien,tidak sebesar yang anda bayangkan kan?)

3.Dokter di Indonesia tidak kompeten

Yah, harus diakui itu(membantah hanya semakin memperjelas kekurangan kan). Tapi bisa dilihat kondisinya? Apakah Indonesia memiliki peralatan secanggih singapore? Apakah setiap pasien yang datang di Indonesia,bisa(dan mampu membayar) pengobatan sesuai batas kompetensi yang dimiliki dokter? Di singapore setiap pasien yang perlu dibedah, bisa langsung dibedah tanpa banyak pertimbangan? 100 pasien yang datang ke dokter singapore, 100 yang bisa dibedah,makin ahli dokternya. Di indonesia,100 pasien perlu dibedah,mungkin hanya 10 yang langsung dibedah,mungkin 30 pikir-pikir dulu sampai makin parah dan pembedahannya makin sulit,mungkin 30 ke pengobatan alternatif dulu sampai saat kembali ke dokter penyakitnya sudah tidak mungkin dibedah,dan sisanya tidak pernah kembali dan mati karena penyakitnya. Bisa dilihat adanya kesenjangan pengalaman yg masalahnya hanya karena sistem penjaminan kesehatan kita tidak layak.

4.Pengobatan di Indonesia mahal

Jujur,saya paling marah dengan pernyataan ini. Tahukah anda bahwa berobat ke puskesmas itu hanya 3000 rupiah,bahkan gratis di beberapa puskesmas jika membawa ktp dan gratis dimanapun di seluruh indonesia bila anda membawa surat keterangan tidak mampu. bahkan saat ke pengobatan alternatif anda membayar lebih dari itu kan.

Lain cerita jika anda, dengan segala alasan mungkin seperti salah satunya saya sebutkan dibawah ini, menolak berobat di puskesmas dan memilih berobat ke tempat swasta. Dimanapun di dunia ini swasta itu artinya profit oriented, wajar kalo harganya jauh berbeda.

5.Puskesmas atau rumah sakit antri

Pasien berobat ke Ponari antri sampai pasien mati terinjak-injak. Antri itu konsekuensi jumlah puskesmas dan rumah sakit yang sedikit dan harganya yang murah.

6.Berobat di Puskesmas tidak sembuh

Terus terang saya tidak tahu apa yang harus dikatakan soal ini. Ini merupakan lingkaran setan kesalahan sistem masyarakat,pemerintah dan dokter sendiri. Tahukah anda bahwa kami para dokter di puskesmas diwajibkan memberi obat generik. Tahukah anda bahwa tidak ada penyakit yang sembuh dengan sekali minum obat,kombinasi antara pasien yang tidak sabar segera sembuh dan dokter yang takut tidak dapat pasien karena pikirannya yang bercabang memikir uang menyebabkan terapi yang berlebihan dan tidak rasional yang membuat obat generik puskesmas itu hampir tidak berguna lagi. Belum lagi ditambah apotik yang menjual obat tanpa resep dokter sehingga antibiotik abuse meningkat dan ditunjang hobi masyarakat menghemat dengan membeli obat sembarangan menyebabkan resistensi obat. Belum lagi manajemen dinas kesehatan yang tidak bagus sehingga seringkali kami di puskesmas menerima obat dalam jumlah yang terbatas dan mendekati bulan kadaluarsa.

Kesimpulannya, masalah kesehatan di Indonesia kompleks dan tidak bisa diselesaikan hanya dengan meningkatkan kompetensi dokter atau apapun kebijakan yang diskriminatif tertuju kepada dokter,baik ptt maupun penempatan post internship. Masalah kesehatan ini harusnya diselesaikan secara komprehensif, dan butuh dana yang besar, sementara pemerintah dan wakil rakyat kita tidak ada niat untuk itu. Sebagai gambaran, ada yang tahu berapa persen alokasi anggaran kesehatan sebuah kabupaten penghasil batu bara di pulau kalimantan, yang batu baranya bahkan dibuat menguruk jakarta pun bisa, hanya kurang dari satu persen! Apa yang anda harapkan dari itu. Meskipun dokternya lulusan havard apa bisa membuat pelayanan kita setara singapore. Masalahnya di sistem, dan kalau kita diam, UKDI ,penempatan dokter dan segala kebijakan itu hanyalah semacam painkiller yang memuaskan pers dan masyarakat sejenak tapi tidak mengobati masalah sebenarnya.

Dengan anggaran pendidikan yang sedemikian besarnya, tingkatkan saja kompetensi secara komprehensif di universitas, integrasikan ujian kompetensi dengan pendidikan seperti unas, jangan lagi bebani dokter dengan ujian yang sebenarnya hanyalah pengulangan ujian akhir universitas. Pemborosan waktu, biaya dan tenaga. Mengenai penempatan, tanpa diwajibkan, setiap periode dinkes menolak puluhan bahkan mungkin ratusan dokter yang minta ditempatkan. Percepat saja pembangunan daerah terpencil, sejahterakan rakyat pedalaman, maka dokter pasti dengan sukarela dan biaya sendiri bersedia berangkat ke daerah terpencil. Mewajibkan dokter ke daerah itu sebenarnya hanyalah bentuk lepas tanggung jawab pemerintah yang tidak mampu(atau mungkin tidak mau) mendanai keberangkatan dokter ke daerah. Cukuplah puluhan tahun penempatan Wajib Kerja Sarjana dan lima tahun UKDI ini sebagai tolak ukur, jika tujuannya tidak tercapai untuk apa dilanjutkan,ibarat memberi painkiller ke pasien kanker stadium awal kita tinggal menunggu makin parah saja. Berulang-ulang melakukan cara yang sama tapi mengharapkan hasil yang berbeda itu sebuah kebodohan bukan. Kritisi kebijakan, jangan telan mentah2 atau negara kita makin parah. Semoga ini bisa membantu negara kita ke arah yang lebih baik.

Sebuah opini berdasarkan pengamatan dan pengalaman